30 August 2014






HOT NEWS
Undiknas Jalin Kerjasama dengan Institute Teknologi Nasional Malang »Undiknas kembali mengembangkan sayap dengan mengadakan kerjasama dengan Institute Teknologi Nasional yang sering disebut ITN Malang. Penandatanganan MoU dilaksanakan hari ini Jumat, 29 Agustus 2014 bertempat di Gedung B Kampus Undiknas Denpasar. Kedatangan Rektor ITN Ir. Soeparno Djiwo, M.T., dan jajarannya disambut oleh Wakil Rektor Undiknas Prof. Dr. I Nyoman Budiana, S.H.,M.Si. beserta jajaran pimpinan Undiknas Denpasar. Dalam acara tersebut ditandatangani kerjasama dalam bidang pendidikan, karena Undiknas dan ITN sama-sama memiliki misi untuk mencerdaskan anak bangsa. Selain itu kerjasama juga dilaksanakan dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi, salah satunya menjalin kerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dalam sambutannya Wakil Rektor Undiknas mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang telah ditandatangani dan apresiasi yang tinggi juga diberikan kepada ITN yang pernah berjaya pada tahun 2000an atas prestasi dengan jumlah mahasiswa terbanyak tahun itu. Rektor ITN juga mengungkapkan rasa terimakasihnya atas MoU dan penyambutannya selama melaksanakan kunjungan di kampus Undiknas Denpasar, rector ITN juga berharap kerjasama dengan Undiknas bisa terus ditingkatkan. Direktur Akademik dan Sistem Informasi, Dr. Nyoman Sri Subawa M.M., menambahkan prestasi yang luar bisa dalam bidang penelitian telah diraih ITN, terbukti dengan banyaknya raihan hibah dari DIKTI yang diperoleh, atas prestasi tersebut Dr. Sri Subawa mengucapkan selamat kepada Rektor ITN dan jajarannya. Dipengujung acara dilaksanakan pertukaran cendera mata dan diakhiri dengan sesi foto bersama di depan gedung B kampus Undiknas.  Friday, 29 August 2014 06:47
Dekan FEB "Prof. Dr. IB Raka Suardana, S.E.,M.M.," dipercaya sebagai Pembina sekaligus Narasumber juara Olimpiade Sains »‎Dekan FEB Undiknas, Prof. Dr IB Raka Suardana, SE.,MM dipercaya sebagai Pembina sekaligus Narasumber juara Olimpiade Sains bid Ekonomi Prov Bali yg akan bertarung pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Mataram, 1-7 Sept 2014. Kepercayaan tersebut diberilan oleh Gubernur Bali melalui Ka Disdikpora Prov Bali. Pembinaan dilakukan dalam suatu Training Center (TC) selama 7 hari mulai tg" 24-29 Agustus bertempat di Denpasar. Para peserta yg dibina oleh Prof Raka adalah Made Ngurah Utana (SMA Bali Mandara - Singaraja), Ni Putu Cyntia Suryadewi (SMAN 3 Denpasar), I Komang Tri wisnanada (SMAN 1 Gianyar) dan Evita Martha Dewi (SMAN 4 Denpasar). Prof Raka menyatakan,"suatu kebanggaan tersendiri dipercaya oleh pemda Bali, namun beban berat yg dipikul karena kalau gagal di tingkat nasional, nama Bali akan kecipratan juga." ‎"Selain nama baik diri sendiri ikut terbebani, nama baik lembaga juga dipertaruhkan," ujar Prof Raka saat mendampingi mahasiswa simulasi bermain saham di kantor BEI perwakilan bali, di jl Sudirman Denpasar Rabu, 27 Agustus 2014. Para juara di tingkat Bali, adalah para pemenang dari Kabupaten se-Bali. Ada 9 bidang keilmuan yang dilombakan, yakni matematika, Fisika, Kimia, Informatika/Komputer, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian dan Geografi. Para juara di tingkat Bali dimasukkan TC di Kota Denpasar dan masing-masing bidang ada pembinanya. Khusus utkmatematika, Fisika, Kimia, astronomi/Komputer dan Biologi, jika memperoleh juara di tingkat nasional akan dikirim utk bertanding di kancah internasional.  Thursday, 28 August 2014 07:38

INFO LEMBAGA

HASIL  MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN UTS…
Oleh : Dr. Nyoman Sri Subawa, M.M. Ni Ketut Elly…
Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS)…


INFO FAKULTAS

PEDOMAN TATA PENULISAN Berikut ini ditentukan…
COMPANY VISIT FAKULTAS HUKUM (FH) UNDIKNAS KE…
13 april 2012 , jam 10.00 Wita FTI - Sipil…

PUSAT KAJIAN

Kata Pengantar Jurnal Konstitusi ini merupakan…
RESUME KEGIATAN SUARA KONSTITUSIKERJASAMA…

ARSIP BERITA

SUPPORT ONLINE

AKADEMIK I

Mudita Akademik Undiknas

KEUANGAN I

Md Mul Keuangan Undiknas

MARKETING I

Mareni Marketing Undikinas

WEBMASTER

Adi W Webmaster Undiknas

AKADEMIK II

Agung Akademik Undiknas

KEUANGAN II

Agus Keuangan

MARKETING II

Putri Pendaftaran Mhs Baru

CYBERNET

Sata Cybernet Undiknas


Krisis Roh LPD Dalam RUU LKM

  • PDF

GONJANG-GANJING masalah LPD mencuat lagi. Ihwalnya bermula dari masuknya naskah akademik RUU Lembaga Keuangan Mikro ke DPR. Isi naskah ini konon menyerempet ke wilayah lembaga perkreditan desa alias LPD. Kata perkreditan yang melekat dalam LPD disinyalir akan menjerat LPD masuk dalam ketentuan produk perundang-undangan itu kelak jika disahkan wakil rakyat. Keberadaan LPD mau tidak mau akan disamakan dengan lembaga perbankan.
Posisi LPD harus dipertegas di tengah wacana penggodokan RUU tersebut. “LPD jelas berbeda dengan bank. LPD ya LPD, bank ya bank,” ujar pengamat ekonomi Bali Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardhana, S.E., M.M.

Menurutnya, RUU LKM menggariskan keuangan mikro sebagai  kegiatan sektor keuangan berupa penghimpunan dana dan pemberian pinjaman dan pembiayaan dalam skala mikro dengan suatu prosedur yang sederhana kepada masyarakat miskin dan/atau berpenghasilan rendah. LKM ini menyediakan jasa keuangan mikro bukan bank yang tidak semata-mata mencari keuntungan.
Ada tiga bentuk LKM. LKM formal, seperti bank perkreditan rakyat (BPR) berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 1998 dan koperasi sesuai UU Nomor 25 Tahun 1992. Ada pula LKM berbentuk semiformal, seperti LPD di Bali, Lumbung Pitih Nagari (LPN) di Sumatera Barat, badan kredit kecamatan (BKK) di Jawa Tengah, kredit untuk rakyat kecil (KURK) di Jawa Timur, dan Lumbung Kredit Perdesaan (LKP) di NTB.

LKM yang berbentuk nonformal lahir berdasarkan inisiatif masyarakat, ditumbuhkan LSM atau beberapa dinas pemerintah. LKM ini disebut sebagai kelompok swadaya masyarakat (KSM), seperti kelompok simpan pinjam (KSP), kelompok usaha bersama (KUB), kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS). 

Menurut Prof. Raka, LKM di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan NTB kemudian mengalami perubahan status menjadi BPR. “Tetapi, LPD di Bali tetap dipertahankan menjadi LKM semiformal.  Operasional LPD layaknya perbankan, tetapi  supervisinya di bawah BPD Bali,” kata Dekan FE dan Bisnis Undiknas University ini.

Upaya mendongkrak LPD di Bali menjadi BPR bukan tak pernah mencuat ke permukaan. Dorongannya sempat berdenyut tahun 1987 saat penggagas LPD, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, masih menjabat gubernur Bali. “Dalam sebuah diskusi tentang LPD di Sanur tahun 1987, Bank Indonesia mendorong agar LPD diubah menjadi BPR. Tetapi, Prof. Mantra tetap bersikukuh menolaknya,” ujar pengamat ekonomi Universitas Dwijendra M.S. Chandra Jaya.

Munculnya wacana RUU LKM dinilai mengusik lagi status LPD sebagai LKM nonbank. Padahal, ketentuan Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 yang diubah dengan Perda Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang  Perubahan atas Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang LPD menekankan kepemilikan LPD di tangan desa pakraman.  Ini tercantum dalam Pasal 1 Ayat 9 yang berbunyi, LPD sebagai lembaga keuangan milik desa yang bertempat di desa. “Desa yang dimaksud di sini, adalah desa pakraman, bukan desa dinas seperti umumnya dikenal,” tandas Prof. Raka.

LKM nonformal seperti LPD memang hendak dipayungi draf RUU LKM 2010 sebagai milik desa. Ini sesuai ketentuan Pasal 8 yang menentukan, LKM hanya dapat dimiliki WNI; masyarakat desa atau pemerintah desa/kelurahan; tiap orang hanya memunyai kepemilikan satu LKM. “Tetapi, masyarakat desa atau pemerintahan desa atau kelurahan dalam ketentuan ini kan tidak sama dengan makna desa pakraman di Bali. Desa yang dimaksud RUU ini bisa ditafsirkan desa dinas, bukan desa adat. Tafsir begini kan bisa saja suatu waktu mengusik status LPD untuk diseret-seret sama dengan LKM bank,”  ujar Ketua Program Studi Magister Manajemen Undiknas University ini.

RUU LKM itu juga bisa memicu masalah lain jika kelak diberlakukan sebagai UU. Posisi LPD akan menguat sebagai lembaga objek pajak. Ini disebabkan kelembagaan LPD disamakan dengan lembaga perbankan. “Ketentuan perusahaan umum akan dikenakan juga kepada LPD. Kegiatan LPD bisa dipungut pajak jika masuk ketentuan itu. Padahal, LPD jelas memiliki roh yang tidak ada di lembaga perbankan atau perusahaan umum lainnya,” jelasnya.

Lagi pula, Perda Bali Nomor 8 Tahun 2002 lugas menggariskan praktik nyata kegiatan LPD dominan untuk memberdayakan krama desa maupun desa pakraman. Ini tertuang dalam Pasal 22 yang menggariskan, pembagian  keuntungan bersih LPD pada akhir tahun pembukuan. Pembagiannya ditetapkan untuk cadangan modal (60%), dana pembangunan desa (20%), jasa produksi (10%); dana pembinaan, pengawasan, dan perlindungan (5%); dana sosial (5%).

LPD pun tidak bisa disamakan kegiatan LKM bank dicermati dari sisi lapangan usahanya. Ketentuan Pasal 7 Ayat 1 Perda Bali Nomor 3 Tahun 2007  menekankan, LPD menerima/menghimpun dana dari krama (warga) desa dalam bentuk tabungan dan deposito; memberikan pinjaman hanya kepada krama desa; menerima pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan maksimum 100% dari jumlah modal, termasuk cadangan dan laba ditahan, kecuali batasan lain dalam jumlah pinjaman atau dukungan/bantuan dana; menyimpan kelebihan likuiditasnya pada BPD dengan imbalan bunga bersaing dan pelayanan yang memadai.

Ada konsekuensi serius jika LPD terjerat ketentuan RUU LKM manakala kelak menjadi UU. LPD akan mengalami krisis roh dalam ketentuan hukum nasional tersebut. “Jika LPD dipaksakan masuk ketentuan RUU itu jelas tidak klop. RUU ini belum sanggup memayungi roh LPD,” ujarnya.

Last Updated on Wednesday, 02 February 2011 05:51

KONTAK

SEKRETARIAT
Jl.Bedugul No.39 Sidakarya
Denpasar - Bali
info[at]undiknas.ac.id
Telp. 0361-723077 / 723868
Fax. 0361-723077


Telp. (0361) 723077/723868 Fax. (0361) 723077