Archive for the ‘Artikel’ Category

Pendidikan Indonesia Makin Tertinggal

Wednesday, February 27th, 2008

raka-suardanaPendidikan kita tampaknya akan semakin tertinggal saja dengan negara tetangga. Malaysia tahun depan menargetkan perguruan tingginya masuk 50 besar dunia, sementara Indonesia masuk 50 besar Asia saja belum. Apanya yg salah?

Menurut praktisi pendidikan dari Undiknas, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M. kebijakan pemerintah tidaklah salah, tetapi implementasinya di lapangan yang tidak sesuai. Beliau mencontohkan dalam UU Guru dan Dosen, minimal guru berkualifikasi S-1/D-4. Dosen, sampai tahun 2015 minimal berkualifikasi magister (S-2) dan tahun 2020 minimal doktor (S-3). Namun sayang, yang terjadi banyak yang hanya mengejar syarat saja. Guru dan dosen banyak yang hanya mengejar gelar, tanpa memperhatikan dari sisi kualitas.

Deputi Rektor I dan Ketua PS Magister Managemen Undiknas ini mengatakan pemerintah bermaksud baik, yakni untuk meningkatkan kualitas anak didik, maka pengajarnya harus ditingkatkan kualitasnya. Hal yang sama terjadi di kalangan birokrat. Pemerintah mensyaratkan minimal pendidikan magister untuk golongan/eselon tertentu, namun banyak yang sekedar mencari gelar tanpa mengindahkan PBM yang seharusnya. Alasan ini menyebabkan kualitas pendidikan kita kalah terus.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Sunday, June 24th, 2007

penjor-galunganMenurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

1. Sang Bhuta Galungan.
Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).

2. Sang Bhuta Dungulan.
Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.

3. Sang Bhuta Amangkurat
Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut.

Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Demikian secara singkat keterangan-keterangan dalam merayakan hari Raya Galungan dan Kuningan dalam pelaksanaan dari segi batin. Adapun kesimpulan dari makna Hari Raya Galungan dan Kuningan:

- Dalam menyambut dan merayakan hari-hari raya itu, bergembiralah atas anugrah Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama dan keprihatinan bangsa.
- Terangkan hati, agar menjadi Çura, Dira dan Deraka (berani, kokoh dan kuat), dalam menghadapi hidup di dunia.
- Hemat dan sederhanalah dalam mempergunakan biaya.
- Terakhir dan bahkan yang terpenting ialah mohon anugrah Hyang Widhi dengan ketulusan hati.

From babadbali.com

Penerimaan Mahasiswa
Mahasiswa Baru
E-Journal
  • Web Mail
    User :
    Pass :

    Alternatif Login
    Archive